The ruin is my house and my home.

Within the ruins I pull a thread from a tangle that seems to be made up only of blind knots, and one by one I undo the knots. Each knot is a forgotten, dusty, dirty object worn by time. I have a job with these objects, which is to perceive them within an abandoned mess and to re-enlighten them — to bring them back to light. This ruin is not just the remains of something, it is not just a destroyed place, it is an echo of an act of a life prior to myself. This temporal reverberation makes it possible for me to feel and connect with these other lives. I listen to the message that they recorded in their objects, the affection, the choice, the obsessions or the simple fact that they couldn’t throw anything away —because these things are marks of what they are in the world and those are their values. 

The ruin is my working place

Ghosts are only frightening for those who ignore their existence and those who refuse to communicate with them.

I have always wondered, why do people of my generation have an attraction for old things and their aging aesthetics? Do we feel a need for the physical presence of time? Where does this need come from? Does it give us a sense of belonging, a sense of originating from somewhere?

The ruin is my genesis — the debris

Escombro — Rubble — Debris: pieces of a structure in a confused landscape.

The amorphous stone that doesn’t fit. This is not a puzzle and never will be.  The emptiness and the sense of having been abandoned by something that is no longer there are constituents of the rubble — an un-architecture.

On a street that I used to pass by every day, gentrification led to old houses being demolished, which exposed the size of the spaces they occupied.

As much as I went by that street every day, right after the demolition I had tremendous difficulty remembering what was there before, a violent process of memory erasure.

Reruntuhan itu kampung dan rumahku

Di dalamnya, kutarik seutas dari benang kusut yang hanya tampak sebagai simpul-simpul buta. Satu per satu kuurai simpul-simpul itu. Setiap simpul adalah benda yang terlupakan, berdebu, dan kotor oleh waktu. Aku biasa bekerja dengan benda-benda semacam ini, memahami dalam kekacauan yang terabaikan dan mencerahkan mereka lagi—membuat mereka kembali terang. Bukan sekadar sisa dan semata tempat yang hancur, reruntuhan ini adalah gema dari perilaku kehidupan sebelum diriku. Gaung fana yang memungkinkan diriku merasakan dan terhubung dengan kehidupan-kehidupan lainnya. Kudengar pesan yang mereka rekam pada benda-benda mereka, kasih sayang, pilihan, obsesi atau fakta sederhana bahwa mereka tidak dapat membuang apapun—karena itu semua adalah tanda dari kerja mereka di dunia dan semuanya bernilai.

Reruntuhan itu tempat kerjaku

Hantu hanya menakutkan bagi orang-orang yang menolak untuk berkomunikasi dan mengabaikan keberadaan mereka.

Aku kerap bertanya-tanya, mengapa orang-orang dari generasiku punya minat dengan hal lampau dan estetika tua mereka? Apakah kita membutuhkan kehadiran fisik sang waktu? Dari mana datangnya kebutuhan ini? Apakah itu memberi kita rasa memiliki, perasaan berasal dari suatu tempat?

Reruntuhan itu asal-usulku—serpihan

Escombro—Puing—Serpihan: potongan struktur di lanskap yang limbung.

Batu amorf yang tak pas. Ini bukan teka-teki dan tidak akan pernah menjadi teka-teki. Kekosongan dan perasaan telah ditinggalkan oleh sesuatu yang tak lagi ada adalah unsur puing-puing itu—tanpa arsitektur.

Di jalan yang biasa kulewati setiap hari, gentrifikasi menyebabkan rumah-rumah tua itu dihancurkan, memperlihatkan ukuran ruang yang mereka duduki.

Sebanyak lintasanku di jalan itu setiap hari, tepat setelah pembongkaran, aku benar-benar sulit mengingat apa yang sebelumnya ada di sana, sebuah proses bengis dari pengikisan ingatan.

Metal structure on the site where it used to be Toko Buko Liong in Kota Lama,  Semarang, Indonesia, 2020.
How can one be born and live in places that have been destroyed?

That home of my Indonesian grandparents, which had always been protected by their children, was abandoned for 2 years after one of their siblings was found dead inside . At the age of 18 I returned  there and it felt as if an  image destruction — an iconoclasm — had taken place. Everything that was once protected was covered by oblivion, a thick layer of gray powders.

14 years after entering that place and seeing it in that condition,  it is still one of my most vivid memories until today. The layers of symbolic complexes and destruction of images reverberate in different ways to this day: the way my breath smells when I wear a breathing face mask takes me to that house, opening books to find  the round white bodies of termites writhing inside, the color faded from a set of wooden statues representing a Javanese couple. 

 The first time I visited Indonesia, I felt transported back in time. The mouldy room I stayed in smelled just like my grandparents’ house in Brazil. I watched a humanitarian aid commercial on Indonesian TV of a girl selling popsicles at a street fair as a way to fight poverty. What kind of coincidence was this film? This same scene — selling ice cream — was one of the first jobs of my immigrant family in Brazil to achieve basic survival too. These fragments of memories are descriptions of pieces, stones without a definite shape. They don’t particularly fit in anywhere, but they could belong to anyone, and thus, by this quality, they can be present and re-present in time. In this way, they transcend the barriers of time. 

If I become this stone, will I develop the same ability to travel through time?

Will I be able to access the memory of my ancestors?

The ruin is my home, the debris is my body.
Bagaimana orang bisa lahir dan hidup di situs-situs yang telah hancur?

Rumah kakek-nenek Indonesiaku, yang selalu dilindungi oleh anak-anak mereka, sudah ditinggalkan selama 2 tahun setelah salah satu saudara mereka ditemukan tewas di dalamnya. Pada usia 18 tahun aku kembali ke sana dan, rasanya, seolah-olah suatu penghancuran gambar—suatu ikonoklasma—telah terjadi. Segala sesuatu yang pernah dilindungi diliputi oleh suatu keadaan lupa, lapisan tebal debu abu-abu.

14 tahun setelah memasuki dan melihatnya dalam kondisi seperti itu, tempat tersebut masih menjadi salah satu ingatanku yang paling jelas sampai hari ini. Lapisan kompleks simbolis dan penghancuran citra bergema dengan cara yang berbeda sampai sekarang: cara napasku berbau, ketika aku mengenakan masker wajah dan bernapas, membawaku ke rumah itu, membuka buku-buku, mendapati tubuh putih bulat dari rayap-rayap yang menggeliat di dalamnya, warna memudar dari seperangkat patung kayu yang mewakili pasangan Jawa.

Pertama kali mengunjungi Indonesia, aku merasa dibawa ke masa lalu. Kamar berjamur tempatku tinggal berbau seperti rumah kakek-nenekku di Brasil. Aku menonton iklan bantuan kemanusiaan di TV Indonesia tentang seorang gadis yang menjual es loli di jalanan sebagai cara untuk memerangi kemiskinan. Kebetulan macam apa film ini? Adegan yang sama ini—menjual es krim—adalah salah satu pekerjaan pertama keluargaku yang imigran di Brasil demi kelangsungan hidup dasar juga. Fragmen-fragmen kenangan ini adalah deskripsi dari potongan-potongan, batu tanpa bentuk yang pasti. Mereka tidak cocok di mana saja, tetapi mereka bisa menjadi milik siapa pun, dan dengan demikian, dengan kualitas ini, mereka dapat hadir dan kembali hadir di dalam waktu. Dengan cara ini, mereka melampaui batasan waktu.

Jika aku adalah batu itu, akankah aku mengembangkan kemampuan yang sama untuk melakukan perjalanan melalui waktu?

Apakah aku dapat mengakses ingatan leluhurku?

A ruína é minha casa, o escombro é meu corpo.
“Until we meet” – javanese dagger (keris) wrapped in cotton fabric, natural fiber rope, shells, wasp hive and wax – 2020