Dekade antara tanggal 2 dan 21 Januari

Percakapan antara Daniel Lie dengan tantenya Nio Lian Lie ( a.k.a. Tante Yani), di São Paulo/ Brasil pada 22 Januari 2016.

Mengenang Nio Lian Lie : Januari 1947 – Januari 2020 

Nama:
Pappie = Lie Djoen Liem
Mammie = Ong King Nio


Daniel Lie (D): Ulang tahunmu baru-baru ini, bukan?

Yani (Y): Iya, tanggal 2 Januari

D: Selamat!

Y: Dan juga kemarin…..21 Januari, kamu tahu kenapa?

D: Kenapa?

Y: Ketika aku meninggalkan Indonesia, kami berangkat pada bulan Januari di malam hari ulang tahunku. Aku yakin surat-surat untuk bepergian telah dibuat pada bulan Desember. Aku hanya tidak tahu apakah mereka menyadari bahwa aku bukanlah orang yang mereka sebut di dalam dokumen identitas, tentu saja, bukan 2 Januari 1947, tetapi malah 21 Januari 1947.

D: Itu terjadi di sini (Brasil) atau Indonesia?

Y: Di Indonesia. Itu tertulis di pasporku. Ketika sampai di sini, aku mencoba memperbaikinya di proses naturalisasi. Karena di imigrasi tidak ada yang melihatnya, begitu juga aku. Bagiku, ulang tahunku selalu 2 Januari. Kemudian tahun 1977, ketika aku menaturalisasikan diriku sendiri sebagai orang Brasil, aku melakukan proses itu untuk diriku sendiri, saudara perempuanku Ineke, Ibu (Mammie) dan ayah (Pappie). Lalu aku mencoba memperbaikinya. Aku lampirkan semua dokumen yang dibutuhkan dan juga akta kelahiran. Entah apa yang terjadi, ketika dokumen naturalisasiku tiba, masih ada: 21 Januari. Seseorang menyuruhku untuk membiarkannya karena akan membutuhkan waktu lama untuk memperbaikinya. Butuh waktu hampir satu tahun untuk menyiapkan dokumen ini, dan aku harus membuatnya di kota lain. Bersama keluarga dan teman-teman aku merayakan ulang tahun di tanggal 2, tetapi untuk situasi formal ulang tahunku di tanggal 21.

[Yani meninggal pada bulan Januari tahun ini, upacara pemakaman dan kremasinya juga diadakan pada tanggal 21 Januari 2020.]

D: Cerita semacam itu biasa terjadi pada imigran, tanggal salah, nama salah.

Y: Iya benar. Aku pergi ke pusat imigran untuk melakukan perubahan, pada waktu tanah pertanian keluarga dibeli di tahun 1962. Aku masih menggunakan nama lamaku Lie Lian Nio, lalu aku dinaturalisasi tahun 1968.

D: Lalu tante membalikkan nama keluarga? [Dalam standar Brasil, nama keluarga ada di bagian akhir.]

Y: Sebenarnya aku menaruh Lie di akhir namaku – Nio Lian Lie. Apakah kamu tahu kalau nenekmu memberi nama Belanda pada semua orang?

D: Aku tidak tahu, itu kenapa?

Y: Dia dan Pappie sekolah selama masa penjajahan Belanda. Mungkin dia pikir itu indah, tetapi aku tidak pernah tanya mengapa dia melakukannya.

D: Tapi di keluarga kita tidak ada orang Belanda atau keturunan langsung Belanda ya?

Y: Memang tidak, semua orang Indo-Tionghoa. Nenek moyang, aku tidak tahu berapa banyak generasi sebelum kita yang benar-benar Tionghoa. Kakek kakekmu adalah orang Tionghoa dan setelah itu hanya orang Indonesia.

Mengenai nama Belanda – misalnya, pamanmu Chessy memiliki nama Belanda Chester.

D: Tapi dimana? Di dalam dokumen?

Y: Tidak, sejujurnya tidak ada yang pernah menyebut Chessy sebagai “Chester”, tapi singkatan dari nama Belanda. Mereka memanggilku Yani, karena Pappie memanggilku Liani, bukan Yani, seolah-olah itu adalah nama panggilan. Aku tidak tahu mengapa tantemu Ineke (Ing) dipanggil seperti itu, tetapi aku melihat nama lainnya Inglin di suatu tempat. Yonky, masih sama Yonky. Benny, masih Benny. Ayahmu tinggal bersama Genky. Setelah ayahmu, anak-anak lainnya tidak diberi nama Belanda tetapi hanya nama panggilan. Nama Benny awalnya Bie, lalu Bie menjadi Benny.

Nama panggilan Ana adalah Jeanne dan dia memiliki Ana sebagai nama sosialnya.

D: Jadi tante sebenarnya punya tiga nama?

Y: Ya, tiga nama: nama rumah – nama panggilan; Nama Belanda dan nama Cina yang resmi.

D: Sebenarnya ada empat karena semua orang disebut Lie di Brasil sini kan? 

Y: Tapi Lie adalah nama keluarga.

D: Saat  dinaturalisasi, tante membalik namamu. Ayahku tidak membalikkannya sesuai aturan Brasil, jadi Lie menjadi nama depannya.

Y: Semua nama panggilan tante-tantemu yang lain berasal dari nama Tionghoa, tetapi tidak semua anak memiliki nama Belanda.

D: Bagaimana kisah Pappi dan Mammie? Bagaimana mereka bertemu …?

Y: Aku tidak tahu persis cerita mereka. Aku mendengar beberapa cuplikan; Aku tidak bertanya dan mereka tidak memberitahuku, tetapi aku mendengar dan mengingat beberapa bagian. Aku tidak bisa menanyakan ini kepada mereka seperti halnya kamu bertanya kepadaku. Mungkin hari ini kamu bisa bertanya kepada mereka, tetapi yang aku tahu adalah: keduanya bersekolah, aku tidak tahu apakah mereka bertemu di sekolah, keduanya mengambil kursus menengah yang disebut MULO [Sekolah Pendidikan Rendah Lebih Lanjut selama pendudukan Belanda] — tingkatan orang Belanda, aku tidak tahu apakah itu istilah singkatan. Mereka menikah di tengah-tengah Perang Dunia 2. Sebelum ada toko buku, mereka memiliki perpustakaan yang melayani peminjaman buku, jadi mereka mengenal tentara Belanda yang memberi kami makanan kaleng impor khusus untuk tentara, yang merupakan barang mewah di Indonesia saat itu. Makanan itu mereka dapatkan dari tentara Belanda yang kemudian menjadi teman mereka. Mungkin itu adalah salah satu cara untuk melindungi perpustakaan. Lama-kelamaan perpustakaan itu menjadi toko buku dan mereka bekerja di sana sampai kami pergi. Toko buku itu adalah yang paling terkenal di kota Semarang, karena berada di depan sebuah gereja (gereja Blenduk), begitu terkenalnya sehingga ketika aku di sekolah, mereka memanggilku putri dari Toko Buku Liong.

D: Apakah Pappie dan Mammie juga membuat buku?

Y: Jadi, Mammie membuat buku masak dan Pappie memproduksi buku komik. [Bibiku yang lain, Ineke, ingat kalau Mammie juga ikut membuat komik bersama Pappie.] Aku telah menghasilkan uang sejak berusia delapan tahun. Mammie tidak suka kita punya teman di dalam rumah, dia juga tidak suka di Brasil. Aku adalah anak perempuan tertua dan selalu mematuhi perintah, tetapi adik-adikku tidak peduli dan memanggil tetangga untuk bermain karena Pappie dan Mammie ada di toko buku sepanjang hari. Setelah kelas selesai, adik perempuanku Ing akan pulang ke rumah yang berada di jalan yang sama dengan toko buku, sekitar 5 atau 6 blok jauhnya. Aku akan pergi ke sana dengan berjalan kaki atau dengan sepeda. Bayangkan, umur delapan tahun, aku mengendarai sepeda dan Ing membonceng di belakang. Hari ini aku bahkan tidak bisa bersepeda lagi karena tidak punya keseimbangan untuk itu. [Kesehatan Yani sangat terguncang oleh gagal ginjal dari tahun 90-an hingga kematiannya pada tahun 2020]. Aku menyukai atmosfer yang hadir dari buku, aku belajar bahasa Inggris pada usia delapan. Setiap dua bulan sebuah kotak berisi surat kabar datang dari Belanda dan aku memecahkan permainan di surat kabar berbahasa Inggris. Ketika  berusia delapan tahun, aku bekerja di kasir, begitu juga dengan kakekku, ayah Pappie bekerja di sisi yang lain untuk memeriksa uang kembalian untuk pelanggan. Ayah dari Mammie meninggal beberapa hari sebelum aku lahir.

D: Mammie juga meninggal beberapa hari sebelum saudara laki-lakiku lahir.

Y: Aku diberitahu cerita ini di dalam surat yang belum pernah berani aku buka. Surat dari Mammie yang mengabarkan kematian ayahnya.

Salah satu dari produksi Pappie adalah buku komik, kamu tahu itu?

D: Ya aku tahu, aku punya satu edisinya. 

Y: Di mana kamu membelinya? 

D: Itu dulu milik Pappie yang diberikan ke ayahku dan kemudian ke aku. 

Y: Ah, ayahmu mengambilnya. Dia pasti mengambil beberapa dari rumah keluarga yang lama. Apakah itu Wiro?

D: Iya, Wiro. Ada beberapa di rumah sejak aku kecil dan satu yang lainnya dari rumah Pappie yang lama.

Y: Ada kartunis yang menggambar komik [banyak saudara Yani yang lain ingat bahwa calon suami Mammie dan Ing, Om, secara aktif berkontribusi pada gambar dan adegan Wiro], Pappie menulis cerita, dan setiap bulan ada edisi baru. Kemudian, ketika edisi baru bulan itu akan keluar, aku akan mengambil meja kecil dan tetap di depan toko, menjual terbitan bulan itu dan mengambil komisi 25% dari penjualan. Di penghujung hari, setelah beres-beres, aku pergi ke bagian alat tulis dan kemudian memilih pulpen, penghapus, kertas… dan menukar uangku untuk itu.

D: Apakah bagian alat-alat tulis juga bagian dari Toko Buku Liong?

Y: Iya, penerbitan dan toko buku milik Pappie dan Mammie. Ada anggota dari keluarga Mammie yang mengambil alih toko buku, entah itu dinegosiasikan atau disumbangkan.

D: Setelah tante pergi ke Brasil?

Y: Sebelum pergi, mereka sudah bersepakat. Kamu tahu kalau Pappie tiba di sini 3 bulan sebelum keluarga? 

D: Iya

Y: Bahkan jauh sebelum Pappie datang ke sini, dia telah mengatur semuanya dan kami siap berangkat begitu dia menelepon, jadi memang begitu.

D: Semua anak lainnya sudah lahir saat itu?

Y: Iya, dari aku sampai Swanny – delapan anak, dan Lili (anak ke-9) lahir di Brasil sekitar tahun 60-an. Tapi kami berdelapan bersama Mammie ([selama migrasi]) dan pegawai toko buku itu [Om] yang datang dan kemudian menjadi ayah dari sepupumu.

D: Ketika tante berusia delapan tahun?

Y: Tidak, aku sudah berumur dua belas tahun, setelah masuk ke bulan Januari. 20 hari perubahan tanggal ulang tahunku akan membuat tiketku harus dibayar penuh, dikenakan harga untuk penumpang di atas dua belas tahun. Aku pikir kesalahan ini karena usiaku. Pada saat itu, tiket gratis atau diskon terbatas sampai usia dua belas tahun.

Kami meninggalkan Indonesia menuju Singapura dengan pesawat, kami tinggal di sana kurang lebih tujuh hari sampai kapal bernama Cicalinka (Tchitchalinka) berlabuh di Singapura, dan dari sana kami berangkat ke Brasil melalui pesisir Afrika. 

D: Tapi kembali ke soal Indonesia, bagaimana keluarnya, keputusan untuk pergi?

Y: Sebenarnya tidak ada sejarah perang. Pada saat yang sama ketika kami pergi, semuanya dalam keadaan damai, tidak ada Sukarno sebagai diktator. Kami tidak merasakan tekanan – atau paling tidak sebagai anak-anak, aku tidak merasakannya. Aku selalu tahu cerita tentang datang ke sini dari pembicaraan Pappie kepada teman-temannya soal hal ini. Dia melakukan banyak perjalanan, aku tidak tahu kalau kamu sudah melihat foto kecelakaan mobil, semua keluarga ada di dalam mobil pada waktu itu, mobil terbalik…..Syukur, tidak ada seorang pun yang terluka. Pappie sering bepergian.

D: Di dalam Indonesia atau keliling dunia? 

Y: Di dalam Indonesia, di pulau Jawa – salah satunya Jakarta, atau yang lainnya ke Surabaya. Dia tinggal di pulau itu. Dia datang ke sini, bersama temannya mengatur kepergian ke Brasil, tapi aku tidak tahu apa yang terjadi, temannya itu terhenti di Kanada dan Pappie sendiri di sini di Santos (kota di mana banyak imigran tiba di Brasil Tenggara). Temannya itu bertemu Pappie di Kanada beberapa dekade kemudian.

Dia selalu bilang: ini untuk masa depan anak-anaknya. Mungkin dia tidak lagi melihat harapan apa pun di Indonesia.

Dia benar….Kamu tahu kalau Pappie itu seorang yang visioner. Itu nyata seperti dia bisa melihat hal-hal bahkan sebelum itu terjadi, sedemikian rupa sehingga hal-hal yang ada saat ini, seperti tiket restoran, adalah idenya ketika dia membuka bisnis baru. 

Ide utama dari imigrasi itu untuk masa depan anak-anak, katanya selalu begitu. Dan itu berhasil, kita harus berterima kasih padanya. Di sini sedikit lebih baik dari Indonesia.

D: Karena pada saat yang sama, ketika mereka tidak memiliki banyak tekanan politik, mereka berhasil menjual toko buku, membuat kesepakatan, tetapi apakah proses datang ke sini legal atau ilegal?

Y: Ya, aku tidak tahu persis, seseorang mengatakan kepada aku bahwa mereka pergi sebagai turis, atau sebagai imigran, aku tidak memiliki paspor lama untuk mengkonfirmasi hal ini. Aku hanya tahu bahwa kami terdaftar secara resmi di departemen imigrasi.    

D: Apa tante ingat ketika tante datang ke Brasil? Semua situasinya, semua perjalanannya?

Y: Pada waktu Pappie tiba di sini, dia sudah mendapatkan rumah di Piraporinha, rumah yang besar, dengan taman yang besar, lokasinya bagus. Rumah pertama kami.

D: Tapi aku ingin bertanya lebih spesifik, apakah Mammie memberitahumu tentang meninggalkan Indonesia, pergi ke Brasil, mengubah negara? 

Y: Hal itu dijelaskan kepada anak-anak, kami tidak sepenuhnya mengerti, tapi aku tahu kalau kami akan pergi, seluruh bagian sekolah diselesaikan dan ditutup. Di tahun belajar itu, aku sudah melaluinya tiga bulan dan meninggalkannya. Setelah tiba di sini hampir semua orang masih di usia sekolah dan langsung ditempatkan di sekolah umum.

D: Tanpa tahu bagaimana berbicara bahasa Portugis?

Y: Kami belajar bahasa Portugis di sekolah, kamu tahu bagaimana aku melakukan itu? Aku membeli beberapa majalah, yang sangat populer oleh artis untuk mempelajari apa yang ditulis. Aku tidak punya kamus Portugis-Indonesia waktu itu, sekarang ada Google.

D: Tapi Pappie membuat sebuah kamus Portugis-Indonesia.

Y: Tidak, tidak pada waktu itu, mungkin setelahnya. Untuk belajar, aku mengambil kamus Portugis ke Inggris, kemudian Inggris ke Indonesia dan menyiapkan buku catatan dengan istilah-istilah baru. Aku masih melakukan itu.

Pada waktu itu, Pappie membuka satu toko kecil di depan rumah kami untuk menjual makanan.

D: Apakah kamu ingat tentang perjalanan ke Brasil?

Y: Iya, aku ingat tentang apel, yang saat itu langka dan mewah di Indonesia, dan aku mendapatkannya di kapal. Pada hari keempat aku jatuh sakit karena itu, dan aku tidak bisa makan apel sampai hari ini.

D: Berapa lama perjalanan dengan kapal? Empat puluh hari?

Y: Empat puluh hari, dan ada satu peristiwa yang hampir membuat kami meninggal. Suatu malam, ketika melewati Afrika Selatan, air masuk. Untungnya mereka berhasil mengeluarkannya, tetapi itu adalah malam yang paling mencekam.

D: Apakah kamu membawa perabotan?

Y: Tidak, hanya pakaian-pakaian. Sebelum datang ke sini, Mammie belajar bagaimana cara membuat banyak makanan ringan untuk persiapan, sehingga dia sudah memiliki beberapa pengetahuan untuk diterapkan. Inilah yang kuingat, bahwa dia telah mempersiapkan diri.

D: Tetapi sebagai sebuah keluarga apakah kamu berpikir bahwa sangat sulit untuk datang ke Brasil, untuk menetap, dan pindah dari Asia?

Y: Kesulitannya adalah bahasa, adaptasinya, tetapi karena kami semua masih anak-anak, tidak terlalu sulit. Pasti sangat sulit bagi Pappie dan Mammie, karena sebelumnya ada lebih banyak kelimpahan. [Keluarga Lie, yang tadinya kaya di Indonesia, menjadi melarat selama proses migrasi.] Bagi anak-anak yang pergi pada usia dua, tiga, dan empat tahun, itu hanyalah soal pergantian tempat. Mereka tidak merasakan perbedaan budaya selain iklim, yang menurut saya membuat takut semua orang, bangun tidur dengan iklim dingin Brasil Tenggara, sesuatu yang bahkan tidak terjadi di Indonesia. Tetapi saudara-saudaraku yang berusia di atas enam atau tujuh tahun bisa menyadari perubahan itu. Yang lebih muda bahkan tidak merasakannya.

D: Ayahku bisa dibilang orang Brasil, karena dia tiba pada usia dua tahun.

Y: Aku lebih bisa merasakan karena pada waktu itu aku berusia dua belas tahun. Dalam hal mengingat Indonesia, aku punya kejelasan tentang perubahan ini.

D: Aku tidak tahu apakah kamu tahu, rezim otoriter dimulai di Indonesia, ada banyak kematian….

Y: Ya, itu lebih buruk, lebih buruk dari itu.

D: Sesuatu yang sangat jahat.

Y: Bukan kediktatoran yang menimbulkan segregasi rasial. Faktanya penduduk asli menyerang keturunan Tionghoa. Aku mendengar kasus pemerkosaan perempuan keturunan Tionghoa oleh orang Indonesia. Aku tidak tahu apakah itu terjadi karena balas dendam atau untuk alasan apa, tapi itu banyak. Ketika melihat ini di televisi aku pikir – syukurlah kita berada di Brasil – karena kalau tidak kita semua akan kena itu.

Aku melihat cerita bahwa pemilik toko, keturunan Tionghoa, harus tetap berada di belakang toko, dan yang bekerja di toko harus orang Indonesia agar aman, sampai-sampai orang-orang akan berpikir toko itu milik orang Indonesia. Pemilik sebenarnya harus tetap bersembunyi. Aku punya paman dari Indonesia yang mengirimiku koran. Dia membeli koran bekas dan mengirimku banyak uang. Aku mengambilnya di kantor pos terdekat, majalah dan surat kabar yang dia kumpulkan untuk kami baca di sini, di Brasil, dan mencari tahu fakta tentang Indonesia.

D: Apakah anggota keluarga tante ada yang terbunuh?

Y: Tidak… sejauh yang aku tahu mereka meninggal dengan wajar. Itulah mengapa aku katakan, kediktatoran di sana pasti sama seperti di sini karena CIA yang telah menyusup. Di tahun yang sama, 1964/1965. Jadi CIA pasti sudah menyusup ke beberapa negara, tapi itu yang aku tahu. Kediktatoran di Brasil, aku merasa asing. Aku melihat pawai, tapi aku orang luar.

D: Dari apa yang ku pelajari, di Indonesia mereka membunuh lebih dari 1,5 juta orang pada masa Suharto.

Y: Siapa yang mereka bunuh?

D: Setiap orang yang dianggap komunis atau yang dianggap simpatisan dibunuh. Apa yang aku katakan kepada Swanny [tanteku, adik Yani], dia mengatakan bahwa di Semarang pembunuhan seperti ini tidak terjadi.

Y: Aku juga tidak tahu karena  tidak mengikuti. Yang aku tahu adalah apa yang aku katakan. Yang mencolok, sekali lagi, adalah perubahannya. Paman yang harus kami tinggalkan, saudara laki-laki Mammie yang dua di antaranya masih hidup, dan satu dari pihak Pappie juga masih hidup. Saat kami meninggalkan ayah dan ibu Pappie, mereka masih hidup. Orang tua Mammie sudah meninggal, ibunya juga meninggal muda, dia berusia 55 tahun. [Mammie juga meninggal muda, pada usia 61 tahun.] Paman ini harus mengganti namanya, mengganti nama Tionghoa dengan nama Indonesia. Aku tidak tahu apakah ini konsekuensi dari kediktatoran. Aku tidak berpikir itu ada hubungannya, karena mereka mengejar komunis. Dan aku pikir itu bukan untuk nasionalisme.